Rabu (23/9/2020) Alhamdulillah ketemu Ketua PP IPNU 2003-2006, Rekan Mujtahidur Rido (Gus Edo).
Beliau mengingatkan tiga macam kader IPNU seperti yang disampaikan KH Hasyim Muzadi, ketua umum PBNU 1999-2010.
Pertama, kader pendidikan. Ini model kader IPNU yang semangat terus menempuh pendidikan. S1, S2, S3 hingga profesor. "Bahkan lebih dari profesor," katanya bersemangat.
Untuk inilah IPNU terus menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi agar kadernya bisa kuliah. Pada 2006 ketika saya jadi ketua PC IPNU Jombang, Alhamdulillah bisa menjalin kerjasama dengan Undar sehingga kader IPNU IPPNU bisa kuliah dengan hanya bayar Rp 250rb per semester. Anggota yang semula tidak mimpi kuliah, akhirnya bisa kuliah.
Alhamdulillah sekarang ini kerjasama terus berlanjut. Bahkan kampus yang digandeng bertambah. Unwaha, IAIBAFA, STAI ATTAHZIB, dll.
Ini semata demi mengantarkan agar kader IPNU bisa menjadi kader pendidikan.
Makanya anak yang tidak sekolah/kuliah tetap boleh gabung IPNU IPPNU. Agar bisa difasilitasi kuliah. Saya sedih dengar ada yang bilang; kalau sudah tidak sekolah tidak boleh jadi pengurus Ranting IPNU IPPNU. Ngetok-ngetokno kalau tidak pernah berproses di IPNU IPPNU.
Kedua, kader tauhid. "IPNU harus bisa memfasilitasi kader nya agar bisa berproses menjadi kiai," kata Gus Edo.
Almarhum KH Ishak Latif Tebuireng pas ngaji kilatan Ramadan pernah dawuh. Ngaji kilatan dengan sistem bandongan (kiai membaca, santri maknani), itu tujuannya hanya agar santri seneng ngaji. Bukan untuk mencetak kiai.
Kalau untuk mencetak kiai, ngaji nya sorogan. Santri yang membaca di depan kiai. Kiai nya tinggal ngoreksi.
Gus Idris Jamal Tambakberas pernah cerita, beberapa tahun setelah mondok di Lirboyo. Beliau pernah ditimbali Kiai Jamal. Disuruh membaca kitab di depan beliau. "Membaca kitab di depan Abah, jenengan bayangno. Opo ndak kemringet," kata Gus Idris. Tapi memang seperti itulah cara mengkader agar jadi kiai.
Makanya di IPNU IPPNU, banyak kegiatan yang menuntut kader berani tampil. Seperti latihan khitobah/pidato.
Contoh yang paling bagus di Ranting IPNU IPPNU Tambakberas. Tiap bulan ada kegiatan Corp Dakwah. Tiap pertemuan, ada dua kader IPNU dan dua kader IPPNU yang tampil menyampaikan pidato.
Inilah sebabnya banyak ketua cabang IPNU IPPNU yang lahir dari Tambakberas. Karena mereka sudah terampil bicara di depan umum.
Kalau ranting lain tidak mengadakan program seperti Corp Dakwah itu, pasti sulit menyaingi kader-kader Ranting Tambakberas. Sampai kapanpun ketua PAC Jombang Kota dan Ketua PC akan didominasi Tambakberas.
Saya dari Pulorejo, Ngoro bisa jadi ketua PC karena sejak Mts hingga Aliyah ngaji sorogan kitab kuning makna Jawi kepada almarhum Kiai Sahlan Katerban, Pulorejo. Selama mondok di Pesantren Luhur Malang, tiap Subuh ada program khitobah.
Satu santri putra dan satu santri putri menyampaikan pidato sesuai tema yang telah ditentukan kiai. Kemudian dikomentari oleh pengasuh.
Ketiga kader Aswaja. "Ini kader struktural. Dari IPNU ke Ansor kemudian ke NU," kata Gus Edo.
Kader seperti ini harus menguasai manajemen, administrasi dan tetep perlu kemampuan berbicara di depan umum.
Makanya spirit Berjuang, Belajar dan Bertakwa harus terus digelorakan.
Sebab hanya dengan terus belajar, berjuang dan bertakwa, anggota bisa menjadi kader pendidikan, tauhid maupun aswaja..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar